Dalam kehidupan kita selalu saja ada sisi positif dan
negatif dalam interaksi kita dengan sesama. Positif ketika interaksi kita tidak
membawa kekecewaan, bahkan yang ada adalah saling tolong menolong sesama
mukmin, saling sayang menyayangi sesama mukmin. Dan negatif akan timbul,
saat interaksi kita dengan orang lain membuahkan kekecewaan yang tidak jarang
disertai dengan kemarahan.
Tidak ada manusia yang tak memiliki sifat amarah
berapapun kadarnya. Hanya saja, seberapa jauh, setiap orang memiliki
kemampuan menahan dan mengendalikan sifat amarah dalam dirinya. Sebagian
orang mengatakan marah adalah manusiawi, karena marah adalah bagian dari
kehidupan kita. Tapi alangkah baiknya bila kita bisa menjadi pribadi yang bisa
menahan marah dan kalaupun kita marah, maka marahnya kita tidak berlebihan.
Syeikh Imam al-Ghazali, dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin
nya mengatakan, “Barangsiapa tidak marah, maka ia lemah dari melatih diri. Yang
baik adalah, mereka yang marah namun bisa menahan dirinya.”
Tiga hal termasuk akhlak keimanan yaitu, orang yang
jika marah, kemarahannya tidak memasukkanya kedalam perkara batil,
jika senang maka kesenangannya tidak mengeluarkan dari kebenaran dan jika dia
mampu dia tidak melakukan yang tidak semestinya.
Maka wajib bagi setiap muslim menempatkan nafsu
amarahnya terhadap apa yang dibolehkan oleh Allah Swt, tidak melampaui batas
terhadap apa yang dilarang sehingga nafsu amarahnya tidak mengarah kepada
kemaksiatan, kemunafikan apalagi sampai kepada kekafiran. Kita harus
melatih diri kita agar tidak menjadi orang yang mudah marah dan menahan marah
kita agar kemarahan kita tidak berlebihan.
Perhatikan firman Allah Swt berikut ini : “Dan
bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang seluas
langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu)
orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan
orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang. Allah
menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan (QS. Ali Imran {3} :133-134).
Orang yang bertakwa adalah mampu menahan marah dengan
tidak melampiaskan kemarahan walaupun sebenarnya ia mampu melakukannya. Kata
al-kazhimiin berarti penuh dan menutupnya dengan rapat, seperti wadah yang
penuh dengan air, lalu ditutup rapat agar tidak tumpah. Ini mengisyaratkan
bahwa perasaan marah, sakit hati, dan keinginan untuk menuntut balas masih ada,
tapi perasaan itu tidak dituruti melainkan ditahan dan ditutup rapat agar
tidak keluar perkataan dan tindakan yang tidak baik. (Quraisy Shihab,
Tafsir al-Misbah, II, hal. 207).
Berikut beberapa hadits tentang keutaman menahan marah
:
- Rasulullah Saw bersabda : “Orang kuat itu bukanlah yang menang dalam gulat tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan nafsu amarahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
- Dari Ibnu Mas’ud ra Rasulullah Saw bersabda : “Siapa yang dikatakan paling kuat diantara kalian? Sahabat menjawab : yaitu diantara kami yang paling kuat gulatnya. Beliau bersabda : “Bukan begitu, tetapi dia adalah yang paling kuat mengendalikan nafsunya ketika marah.” (HR. Muslim)
- Al Imam Ahmad meriwayatkan hadits dari Anas Al Juba’i , bahwa Rasulullah Saw bersabda : “Barangsiapa yang mampu menahan marahnya padahal dia mampu menyalurkannya, maka Allah menyeru pada hari kiamat dari atas khalayak makhluk sampai disuruh memilih bidadari mana yang mereka mau.” (HR. Ahmad dengan sanad hasan)
- Al Imam Ahmad juga meriwayatkan hadits dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah Saw bersabda : “Tidaklah hamba meneguk tegukan yang lebih utama di sisi Allah Swt, dari meneguk kemarahan karena mengharap wajah Allah Swt.” (Hadits shahih riwayat Ahmad)
- Al Imam Abu Dawud rahimahullah mengeluarkan hadits secara makna dari shahabat Nabi, bahwa Rasulullah Saw bersabda : “Tidaklah seorang hamba menahan kemarahan karena Allah Swt kecuali Allah Swt akan memenuhi baginya keamanan dan keimanan.” (HR. Abu Dawud dengan sanad Hasan)
- “Dari Abu Hurairah ra, bahwa seseorang berkata kepada Nabi Saw : berwasiatlah kepadaku. Beliau bersabda : “jangan menjadi seorang pemarah”. Kemudian diulang-ulang beberapa kali. Dan beliau bersabda : “janganlah menjadi orang pemarah” (HR. Bukhari) .
Rasulullah Saw tidak pernah marah jika celaan
hanya tertuju pada pribadinya dan beliau sangat marah ketika melihat atau
mendengar sesuatu yang dibenci Allah, maka beliau tidak diam, beliau marah dan
berbicara. Ketika Nabi Saw melihat kelambu rumah Aisyah ada gambar
makhluk hidupnya (yaitu gambar kuda bersayap) maka merah wajah Beliau dan
bersabda : “Sesungguhnya orang yang paling keras siksaannya pada hari kiamat
adalah orang membuat gambar seperti gambar ini.” (HR. Bukhari Muslim).
Al Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits Anas ra
: “Anas membantu rumah tangga Rasulullah Saw selama 10 tahun, maka tidak
pernah beliau berkata kepada Anas : “ah”, sama sekali. Beliau tidak berkata
terhadap apa yang dikerjakan Anas : “mengapa kamu berbuat ini.” Dan terhadap
apa yang tidak dikerjakan Anas,”Tidakkah kamu berbuat begini.” (HR. Bukhari dan
Muslim).
Begitulah keadaan beliau senantiasa berada diatas
kebenaran baik ketika marah maupun ketika dalam keadaan ridha/tidak marah. Dan
demikianlah semestinya setiap kita selalu diatas kebenaran ketika ridha dan
ketika marah. Rasulullah Saw bersabda : “Ya Allah, aku
memohon kepada-Mu berbicara yang benar ketika marah dan ridha.” (Hadits shahih
riwayat Nasa’i).
Dr, Aidh bin Abdullah Al-Qarni M.A mengatakan,
Berhati-hatilah terhadap keributan, karena ia sangat melelahkan. Jauhilah sikap
mencerca dan mencela, karena ia sangat menyiksa.
Setelah kita mengetahui keutamaan menahan marah,
seperti yang diuraikan diatas, sekarang coba kita tanyakan dengan jujur pada
diri kita sendiri, bagaimana kita kalau sedang marah selama ini? Apakah kita
mampu menahan marah? Atau apakah saat marah kita tetap mampu menahan dan
mengendalikan amarah kita hingga tidak berlebihan?

Jakarta Time
Print this page






0 komentar:
Posting Komentar